Navigasi

Berita & Kegiatan Terkini

Ikuti perkembangan terbaru mengenai perencanaan pembangunan, riset, dan inovasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penelitian dan Pengembangan
IPB University-Pemprov Babel Sinergi Riset Hilirisasi Pakan untuk Pascatambang
16/07/2026 - 04:24 Rizky Fitrajaya

IPB University-Pemprov Babel Sinergi Riset Hilirisasi Pakan untuk Pascatambang

Pangkal Pinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkomitmen penuh untuk mendukung riset pemanfaatan lahan kritis bekas tambang timah menjadi kawasan produktif. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang penyiapan transformasi ekonomi daerah agar tidak lagi bergantung pada sektor ekstraktif.  Komitmen ini disampaikan oleh Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Joko Triadhi, dalam pembukaan Kick-off Meeting Program Skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi (SINERGI) kerja sama IPB University dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Ruang Buku Limau, Kantor Bappeda Babel, Kamis (16/7/2026).  SINERGI merupakan program pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang bertujuan mempercepat pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi agar masuk ke industri atau diadopsi masyarakat, dengan target Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) level 6-9.  Pada tahun 2026, Program SINERGI kerja sama IPB University dan Pemprov Babel mengambil topik Program Pengembangan Lumbung Pakan Berbasis Pakchong, Sorgum, dan Indigofera di Lahan Pascatambang Timah Pulau Bangka dengan Penerapan Bioameliorant Mikoriza dan Pembenah Tanah. Kolaborasi strategis ini diarahkan untuk membangun lumbung pakan ternak di lahan eks-tambang timah. Hilirisasi riset ini ditargetkan mampu meningkatkan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) pupuk hayati mikoriza menuju skala komersial industri penataan lahan marjinal. Joko mengakui bahwa lahan pascatambang yang didominasi oleh pasir hingga di atas 90 persen selama ini menjadi tantangan berat bagi sektor pertanian. Namun, kondisi tersebut harus disikapi sebagai peluang inovasi demi kemanfaatan masyarakat luas.   "Kami juga selalu melihat peluang kira-kira bisa dimanfaatkan untuk apa lahan-lahan eks-tambang ini agar memiliki nilai ekonomis dan yang paling penting adalah bermanfaat," Joko menjelaskan urgensi program tersebut. Melalui teknologi bioameliorant mikoriza dan pembenah tanah, komoditas pakan seperti rumput pakchong, sorgum samurai 1, hingga indigofera zollingeriana akan dibudidayakan untuk memulihkan kesuburan tanah marjinal yang umumnya terjadi pada bekas lahan tambang timah.  Proyek percontohan program ini akan diuji coba pada Kelompok Ternak Semangat Bersama di Desa Tanjung Gunung, Bangka Tengah. Proyek ini diproyeksikan mampu menekan angka ketergantungan pasokan pangan luar daerah. Jika riset yang digawangi tim ahli IPB University Prof. Dr. Panca Dewi dan Prof. Dr. Luki Abdullah ini berjalan progresif, Pemprov Babel berencana mereplikasinya ke berbagai wilayah sentra eks-tambang lainnya.   "Jangan sampai masyarakat kami pada saatnya tiba nanti pertambangan tidak lagi bisa kita andalkan. Bingung ini akan ke mana Bangka Belitung. Jadi kita terus bergerak walaupun mungkin ya secara bertahap seperti itu," tutur Joko, menegaskan pentingnya masa transisi pascatimah, dan menginstruksikan perangkat daerah terkait serta tim peneliti internal Bappeda Babel untuk bersinergi aktif memfasilitasi kebutuhan data serta pendampingan teknologi di lapangan.   Dalam paparannya, Prof. Dr. Luki Abdullah dan tim juga menyampaikan bahwa proyek ini menekankan pentingnya peran perempuan. Berdasarkan hasil riset IPB, pelibatan perempuan di dalam berbagai kegiatan ternyata dapat meningkatkan value dan nilai keberhasilan proyek lebih dari 36%. Tim IPB juga mendengarkan masukan dan berbagi pengalaman dengan para penyuluh pertanian dan pengawas mutu pakan yang ikut hadir dalam kegiatan, sambil memberi semangat kepada seluruh hadirin karena memang dibutuhkan kesabaran untuk mengubah cara pandang masyarakat sebagaimana yang juga terjadi di banyak daerah yang sudah mereka dampingi.______________________________________________________________________________________________________________________________________IPB University-Babel Gov’t Collaborate on Research of Livestock Feed Downstreaming for PostminingPangkal Pinang – The Kepulauan Bangka Belitung Provincial Government is fully committed to supporting research on the degraded ex-tin mining land utilization for productive areas. This step is a part of a long-term strategy to prepare regional economic transformation to reduce dependence on the extractive sector.The Head of the Kepulauan Bangka Belitung Provincial Development Planning and Research Agency (Bappeda), Joko Triadhi, conveyed this commitment at the opening of the Kick-off Meeting for the Integrated Technology Transfer-Based Research Downstream Scheme (SINERGI) Program, a collaboration between IPB University and the Provincial Government of Kepulauan Bangka Belitung (Babel), held at the Buku Limau Meeting Room of the Bappeda office, on Thursday (16/07/2026). SINERGI is a funding program from the Ministry of Higher Education, Science, and Technology (Kemdiktisaintek) that aims to accelerate the utilization of university research results for industry or public adoption, with a target Technology Readiness Level (TKT) of levels 6-9.In 2026, the SINERGI Program, a collaboration between IPB University and the Babel Provincial Government, focused on the Development of Pakchong grass, Sorghum, and Indigofera-Based Forage Banks on Post-Tin-Mining Lands on Bangka Island by Implementing Mycorrhizal Bioameliorants and Soil Conditioners. This strategic collaboration aims to develop livestock feed banks on ex-tin mining land. This research downstreaming is targeted at increasing the Technology Readiness Level (TKT) for mycorrhizal biofertilizers to a commercial scale for the marginal land improvement industry.Joko acknowledged that post-mining land, dominated by sand by over 90 percent, has been a significant challenge for the agricultural sector. However, this situation must be addressed as an opportunity for innovation for the benefit of the wider community."We are also always looking for opportunities to utilize these ex-mining lands to create economic value, and most importantly, to make them useful," Joko explained the urgency of the program.Through mycorrhizal bioameliorant technology and soil conditioners, forage commodities such as pakchong grass, samurai sorghum 1, and indigofera zollingeriana will be cultivated to restore the fertility of marginal soils common in ex-tin mining areas. This pilot program will be tested in the Semangat Bersama Livestock Farmer Group in Tanjung Gunung Village, Central Bangka. This project is expected to reduce dependence on imported food supplies. If the research, led by a team of experts from IPB University, Prof. Dr. Panca Dewi and Prof. Dr. Luki Abdullah, is successful, the Bangka Belitung Provincial Government plans to replicate it in other ex-mining areas."We must not just wait until we can no longer rely on mining, confused about where Bangka Belitung will go. So, we will continuously move forward, even if it is just small steps," said Joko, emphasizing the importance of the post-tin transition period and instructing relevant regional officials and the internal research team of Bappeda to actively collaborate with the IPB team to facilitate data needs and technological assistance in the field.Prof. Dr. Luki Abdullah and his team also presented that this project emphasizes the importance of women's roles. Based on IPB research, involving women in various project activities can increase the value and success rate of the project by more than 36%. The IPB team also listened to input and shared experiences with agricultural extension workers and feed quality supervisors who attended the event. They also encouraged all attendees because changing people's perspectives, as has been the case in many areas they have assisted, requires a lot of patience. [Translt: Rusni B]

#Post-mining #Research #Forage #tin mining
Baca Selengkapnya
Penelitian dan Pengembangan
IPB dan Pemprov Babel Luncurkan Atlas Potensi Aren Babel
28/07/2026 - 01:07 Rusni Budiati dan Nurul Ichsan

IPB dan Pemprov Babel Luncurkan Atlas Potensi Aren Babel

Aren bukanlah tanaman baru bagi masyarakat Indonesia, demikian pula bagi masyarakat yang tinggal di kampung-kampung di Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Aren, yang merupakan tanaman multiguna, banyak tumbuh secara alami di Babel dan telah lama menjadi tanaman pengisi kelekak yang dimanfaatkan untuk penghidupan masyarakat. Masyarakat lokal mengenalnya dengan sebutan kabong. Tanaman ini, selain potensial sebagai sumber penghidupan masyarakat, juga menjadi benteng konservasi sekaligus penjaga keseimbangan ekosistem.Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat bahwa pada tahun 2021 terdapat  877 orang petani aren dengan total produksi aren di Bangka Belitung sebanyak 1.487,84 ton (BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2022). Penelusuran tim Bidang Litbang Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengungkapkan fakta bahwa dengan menyadap 3 pohon aren per hari, petani penyadap aren memperoleh penghasilan minimal Rp150.000 per hari, setara dengan Rp4.500.000 per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa penghasilan petani penyadap aren berada di atas garis kemiskinan Bangka Belitung per kepala keluarga yang berada pada kisaran Rp3.600.000 per bulan.Karena tanaman ini sangat potensial dari sisi ekonomi maupun ekologi, IPB University dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkolaborasi menurunkan para peneliti untuk meneliti potensi aren di Babel bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, serta pegiat kelekak dan sejarawan di Babel. Penelitian yang didanai melalui skema Matching Fund Kedaireka ini berlangsung pada bulan Juli–Desember 2023. Hasil penelitian potensi aren ini kemudian dituangkan ke dalam buku berjudul ‘Atlas Potensi Aren Provinsi Kepulauan Bangka Belitung: Revitalisasi Kelekak Kabung sebagai Sumber Kehidupan’.“Kami di Bappeda menyadari bahwa kekayaan alam kita, terutama yang ada di dalam kelekak, harus kita kelola dengan bijak untuk masa depan”, Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Joko Triadhi, menyampaikan pengantarnya atas terbitnya buku ini. Ia juga menekankan bahwa pembangunan Kepulauan Bangka Belitung yang berkelanjutan harus dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan perencanaan yang matang.Selain berupaya mengangkat kembali potensi kabong yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi tinggi, buku ini disusun dengan tujuan memberikan data dan informasi terkini terkait pemanfaatan aren yang dilakukan oleh masyarakat berdasarkan kajian etnobotani dan potensi tegakan aren di Pulau Bangka; menganalisis kesesuaian habitat aren di Pulau Bangka yang berguna untuk acuan perluasan kebun aren; memberikan stimulus alami, stimulus manfaat, dan stimulus rela untuk aksi konservasi dan pengembangan aren bagi meningkatkan kesejahteraan masyarakat; serta memberikan saran dan masukan kepada pemerintah daerah dalam upaya pengembangan potensi aren di Kepulauan Bangka Belitung. Buku ini dapat diperoleh melalui  https://www.ipbpress.com/, dan dapat dibaca di Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Universitas Bangka Belitung. 

#kelekak #aren #riset
Baca Selengkapnya